Kabar Nasional – Bikin Status di Facebook, Ibu Rumah Tangga di Amankan Polisi

 

Dengan perkembangan jaman semakin pesat ini, banyak dari aktivitas keseharian yang tak lepas dari media sosial. Akan tetapi hal tersebut tidak dibarengi dengan etika dalam menggunakan media sosial dengan bijak. Hal tersebut dialami oleh PGJ (33), seorang ibu rumah tangga yang diduga menjadi penyebar ujaran kebencian atau hate speech via media sosial, harus berurusan dengan pihak kepolian. Dirinya resmi ditahan di sel tahanan wanita Mapolres Kupang Kota, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (13/05/2017).

AKBP Jules A Abast Kepala Bidang Humas dari Polda NTT juga membenarkan mengenari penangkapan dan pemindahan tahanan PGJ, PGJ yang diduga sebagai penyebar ujaran kebencian tersebut dipindahkan ke Mapolres Kupang Kota oleh tim penyidik Subdit Cybercrime Polda NTT.

“Betul pagi tadi aparat dari Polda NTT sudah berhasil mengamankan pelaku ujaran kebencian PGJ. Dia adalah pelaku Ujaran Kebencian di media sosial yang sudah dilaporkan oleh salah satu tokoh keagamaan yang ada di kota Kupang,” kata Jules

“Saat ini pelaku masih dititipkan di sel tahanan wanita Polres Kupang Kota,” ucap Jules, Minggu (14/05/2017).

Jules juga menjelaskan, sebelum dipindah ke Mapolres Kupang Kota, pelaku dibawa ke RS Bhayangkara, Kupang, untuk menjalani pemeriksaan medis kesehatannya.

“Saya harap masyarakat tak melakukan perbuatan yang bisa bertentangan dengan hukum. Marilah kita jaga bersama supaya situasi dan kondisi kamtibmas di NTT tetap damai, aman dan kondusif,” kata Jules.

Sebelumnya, penyidik dari Subdit Cybercrime Polda NTT telah mengamankan PGJ yang beralamat di Naikoten, Kota Kupang, Jumat 12 Mei 2017. Wanita itu diamankan setelah dirinya menyampaikan ujaran kebencian lewat media sosial Facebook.

Berhubung kasus ini sudah ditangani oleh pikah kepolian Kota Kupang, masyarakat diminta untuk mempercayakan penanganan kasus ini kepada pihak kepolisian.

Warga Kota Kupang sempat dibuat heboh dengan beredarnya status yang dibuat PGJ di media sosial Facebook yang dianggap telah memancing kemarahan masyarakat. Atas dugaan tindakan pelaku ujaran kebencian tersebut, PGJ akan dijerat dengan Pasal 45 A ayat 2, junto Pasal 28 Aayat 2 dan Undang – undang nomoor 11 taahun 2008 yang berisikan tentang perubahan adas undang – undang nomor 19 tahuun 2016 terkait dengan informasi dan transaksi elektronik (ITE).

Be Sociable, Share!