Kabar Nasional – Eks Menteri SBY Angkat Suara Terkait Dugaan Beras Oploson

 

Anton Apriyantono selaku Komisaris Utama PT Tiga Pilar Sejahtera telah membantah apabila perusahaannya sudah melakukan manipulasi atas harga beras. Anton telah menegaskan apabila beras yang diproduksi oleh perusahaaannya, sudah sesuai dengan standar nasional Indonesia, bukannya beras oplosan.

“Pada dunia perdagangan beras, memang dikenal akan namanya beras premium dan beras medium. SNI untuk kualitas beras pun ada. Yang diproduksi oleh TSP sudah sesui dengan SNI, untuk kualitas atas,” ujar Anton ketika dikonfirmasi pada Minggu 23/7/2017.

Sebelumnya, pihak kepolisian memang telah menyebutkan bahwasannya ada dugaan telah terjadi manipulasi beras ketika melakukan penggerebekan pada sebuah gudang beras yang merupakan milik dari PT Indo Beras Unggul atau PT IBU. PT IBU merupakan anak usaha dari PT Tiga Pilar Sejahtera di Bekasi. Pihak kepolisian telah menduga apabila perusahaan tersebut sudah mengubah gabah yang telah dibeli dengan harga Rp 4.900,- dari petani lalu mencantumkan merk premium pada labelnya.

Beras produksi dari PT IBU yakni ‘Maknyuss’ telah dijual dengan harga Rp 13.700,- per kilogramnya sedangkan ‘Cap Ayam Jago’ telah dijual dengan harga Rp 20.400,- untuk setiap kilogramnya. Tentu saja harga tersebut jauh lebih tinggi dari harga yang sudah ditetapkan oleh pemerintah yakni Rp 9.000,- per kilogramnya.

Mantan menteri Pertanian di era SBY ini tak setuju disebut sudah menjual beras diatas harga eceran tertinggi. Menurunya, SK Menteri Perdagangan terkait JET baru berlaku pada tanggal 18 Juli, sedangkan penggerebekan dilakukan hanya dua hari berselang.

“Tanggal 20 Juli telah diterapkan pada PT IBU saja, tak kepala yang lain serta tak diberikan waktu untuk bisa melakukan penyesuaian,” imbuhnya.

Dirinya menilai apabila HET Rp 9.000,- per kilogram itu terlalu rendah, sebab harga rata – rata beras sudah lebih dari Rp 10.000,- per kilogramnya. Anton pun berpendapat apabila kebijakan tersebut masih perlu untuk dievaluasi lagi, selaih memang harus dibedakan maa beras medium dan mana beras premium sebab beda kualitas.

“Terkait kandungan gizi, terdapat ketidakpahaman yang membedakan diantara kandungan gizi dan angka kecukupan gizi,” imbuhnya.

Be Sociable, Share!