Kabar Nasional – Fakta Mengejutkan Berkedok Umrah Murah First Travel (Bagian I)

Kepolisian mengamankan pemilik sekaligus pemimpin dari biro perjalanan umrah PT First Anugrah Karya Wisata atau First Travel, yaitu Andika Surachman serta Istrina Anniesa Desvitasari Hasibuan.

“Penyidik Dit-Tipidum dari Bareskrim Polri mengamankan Saudara Andika Surachman dan istrinya, Anniesa Desvitasari Hasibuan. Pasangan suami istri itu adalah Dirut dan Direktur First Travel,” kata Martinus Sitompul, Kabag Penum Divisi Humas Mabes Polri dalam keterangan tertulisnya, pada Kamis 10 Agustus 2017.

Penangkapan bos First Travel itu terjadi menyusul banyaknya keluhan dari masyarakat yang mengaku telah menjadi korban penipuan mereka. Masarakat yang sudah membayar untuk biaya perjalanan ibadah umrah, tak juga kunjung diberangkatkan menuju ke Tanah Suci.

Kedua petinggi First Travel itu ditangkap pada hari Rabu, 09 Agustus 2017 di kompleks gedung Kementrian Agama, Jakarta. Mereka kemudian diamankan setelah menggelar konferensi pers di gedung itu.

Setelah proses pemeriksaan, petugas kepolisian mengungkapkan sejumlah fakta yang berhubungan dengan sistem bisnis yang telah digunakan oleh pihak First Travel. Sistem tersebut diduga bisa menjerat dan mengantarkan para petinggi biro perjalanan umrah itu ke penjara. Apa saja fakta tersebut? berikut ini faktanya.

  1. Gali Tutup Lubang

Kuasa hukum dari pada pelapor First Travel, Aldwin Rahadian menduga agen perjalanan umrah itu menggunakan skema ponzi atau sistem gali lubang dengan menjanjikan kberangkatan pada para calon jemaah haji.

Ponzi merupakan sebuah modus investasi palsu yang membayarkan keuntungan pada investor yang berasal dari uang mereka sendiri, atau uang yang sudah dibayarkan oleh investor berikutnya. Keuntungan bukan dari perolehan per individu atau organisasi yang menjalankan usaha.

“Diduga memakai skema ponzi. Jadi yang nampung ratusan ribu calon jemaah haji serta yang diberangkatkan hanya sekian,” kata Aldwin di Jakarta, pada Kamis (10/08/2017).

Aldwin juga memperkirakan jumlah kerugiannya sekitar Rp 25 miliar. Namun diluar dari itu, masih ada puluhan ribu jemaah, masih banyak lagi,” ungkapnya.

Selama kurun waktu 2 tahun, kata Aldwin, banyak dari para jemaah yang tidak diberangkatkan. Mereka yang sudah diberangkatkan hanya orang – orang tertentu seperti polisi dan lawyer.

“Yang diberangkatkan rata – rata orang yang sudah mengerti atau yang elite di tengah masyarakatnya. Seperti kepolisian, lawyer, dan lain – lain,” katanya.

About The Author