Kabar Nasional – Jokowi Diminta Untuk Meninjau Manggarai Terkait Penggusuran oleh PT KAI

Presiden Jokowi diminta untuk meninjau langsung pada lokasi warga yang berada di RW 12 Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan yang akan digusur oleh PT Kereta Api Indonesia. Penggusuran tersebut dilakukan guna pembangunan kereta api dengan tujuan Bandara Soekarno Hatta – Manggarai.

Pembangunan untuk rel kereta api bandara pada lokasi tersebut, adalah salah satu proyek utama dari Presiden Joko Widodo, yang telah dituangkan pada Peraturan Presiden No 3 Tahun 2016 terkait Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional.

“Proyek ini merupakan kebanggan Pak Jokowi. Seharusnya, Pak Jokowi pun bias turun langsung,” ungkap Nasrul Dongoran selaku Kuasa Hukum warga RW 12 dari PBHI Jakarta ketika ditemui di lokasi pada Minggu 9/4/2017.

Nasrul pun menilai bila PT KAI sudah melakukan penyerobotan pada tanah yang telah ditempati oleh warga semenjak tahun 1950. Pihaknya pun menganggap bila PT KAI, yang telah menyebutkan sudah memiliki sertifikat Hak Pakai No 47 Manggarai Tahun 1998 atas nama PJKA, hanyalah klaim semata.

“Yang ini namanya penyerobotan tanah PT KAI. Sehingga, bukannya pembongkaran, tanah tersebut bukanlah tanah milik mereka,” kata Nasrul.

Setidaknya, terdapat 11 bangunan dengan luas 1.150 meter persegi  rencananya digusur oleh PT KAI pada waktu dekat ini. Tetapi Nasrul menduga apabila di masa yang akan datang, terdapat bangunan yang dimiliki oleh warga lain yang telah diserobot oleh PT KAI.

Nasrul juga mengungkapkan apabila cara – cara yang sudah dipakai oleh PT KAI seperti yang telah dipergunakan oleh Belanda saat menjajah Indonesia.

“Cara – cara di zaman Belanda telah dipakai PT KAI serta berguna hingga sekarang ini,” imbuhnya.

Nur, 60 tahun, salah seorang warga RW 12 Manggarai mengaku sudah semenjak 1970 telah menempat tanah yang pada saat ini telah diklaim merupakan milik PT KAI. Nur mengungkapkan apabila rumah yang telah ditempatinya tersebut merupakan tanah kosong yang sebelumnya memang tidak ditempati oleh siapapun.

“Saya sudah berada di sini semenjak 1970 an. Pada waktu itu, saya ikut dengan orang tua saya. Pada waktu itu, disini masih berupa tanah merah kosong,” kata Nur sebagaimana yang telah dikutip dari CNNIndonesia.com.

About The Author