Kabar Nasional – Kerinduan Warga Rusunawa Dengan tempat Tinggal Lamanya

Gerimis masih saja mengguyur di kawasan Jatinegara Barat pada waktu sore itu. anak kecil yang masih berusia 8 – 10 tahun tetap berlarian menembus gerimis yang memang kian menit masih saja lebat. Raut wajahnya terlihat sumringah mandi di derasnya hujan.

Pekik melengking dari para ibu  yang suaranya terengan dari rumah susun yang begitu sederhana  atau Rusunawa Jatinegara. Mereka telah memanggil anak mereka agar bisa segera berteduh, ad aseorang perempuan yang usianya paruh baya meneriaki anaknya yang memang diketahui bernama Sofyan di balik jendela rumah susun yang ada di lantai 3.

Rusun ini memang jika dilihat  nampak begitu megah dan mewah dengan banyak sapuan cat abu-abu lebih  membuat rumah ini terlihat elegan. Apalagi jika dibubuhi banyak pohon yang rindang dan menghiasi area depan rusun. Tidak heran jika penampilannya yang terlihat dariluar terlihat seperti apartemen yang mewah ada di kawasan Jakarta.

Warga yang ada setempat telah memanfaatkan halaman tersebut untu berjualan sembako dan juga jajanan. Mereka telah menganggap aktivitas dagang itu sebagai salah satu sumber mata pencahaarian mereka demi menyambung hidup disana.

Perempuan yang sudah berusia 42 tahun bernama Lilik Naadifah sudah tinggal di Rusunawa Jatinegara selama kurang lebih 1 tahun, sejak ruamhnya yang ada di Kampung Pulo digusur dengan paksa oleh pihak Pemprov DKI. Lilik dan suaminya serta kedua anaknya telah meninggalkan kehidupan lamanya saat dikampung Pulo baginya disana akan lebih sejahtera.

Tinggal di rusun jelas Lilik tidak ada yang namanya gratis. Iuran keamanan, listrik sampai air telah ditanggung sendiri. Padahal baginya, disaat pertama pindah ke rusun, dia telah dijanjikan akan bisa mendapatkan subsidi dari pemerintah.

“Subsidi apanya, makan saja kami merasa kesusahan,” jelas Lilik.

Selain yang dirasakan Lilik, ternyata warga lainnya seperti Suhendi telah menyatakan beban hidupnya telah bertambah disaat tinggal di rusun itu. hidup disana, baginya tidak senyaman saat tinggal di rumah petak di dekat bantaran kali. Saat ini 2 anaknya juga harus putus sekolah. Berbekal dari ijasah SMP anaknya juga sudah terpaksa bekerja menjadi pelayan kios yang ada di pasar Jatinegara.

About The Author