Kabar Nasional – Kiprah Novel Baswedan Selama Menjadi Penyidik KPK

Komisi Pemberantasan Korupsi tidak berhenti dalam melakukan operasi tangkap tangan, lalu menetapkan tersangkai sampai memenjarakan para koruptor. Bagi masyarakat umum, kiprah dari KPK dalam memerangi korupsi memang nampak berjalan dengan sebagaimana mestinya.

Seolah, hampir tidak ada masyarakat yang telah menangkap adanya gejolak pada lembaga antikorupsi tersebut. Tetapi, sepucuk Surat Peringatan 2 bagi Novel Baswedan selaku penyidik utama KPK, pada tanggal 21 Maret yang lalu, telah menunjukkan bahwa gejolak dalam diri KPK masih ada.

Pemberian peringatan untuk Novel tersebut, telah kembali mengingatkan public pada kiprah dari sang penyidik. Sebenarnya, memang bukan kali ini saja Novel Baswedan telah ‘berulah’.

Pada Februari 2016 yang lalu, Novel telah bebas dari kasus pidana yang telah menjeratnya dikarenakan tidak ada cukup bukti. Kejaksaan agung pun menerbitkan SKPP (Surat Keputusan Penghentian Penuntutan) atas dugaan penganiayaan pada seorang pencuri sarang burung wallet samapi meninggal dunia di tahun 2004 silam.

Pada kasus tersebut, Novel telah dijadikan sebagai tersangka pada tanggal 1 Oktober 2012 lalu. Hal itu dilakukan segera setelah dirinya memimpin proses penggeledahan pada Gedung Korps Lalu Lintas Polri., Pada waktu itu, KPK tengah melakukan penyidikan akan perkara korupsi pada simulator SIM yang telah menjadikan Inspektur Jenderal Djoko Susilo selaku Kepala Korlantas pada waktu itu sebagai tersangka.

Tidak hanya telah menjadi tersangka penganiayaan, 3 tahun setelah menjadi tersangka, Novel Baswedan pun ditangkap. Dirinya telah ditangkap pada rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara sekitar pukul 00.30 WIB pada 1 Mei 2015.

Berkas perkara Novel pun didaftarkan pada Kejari Bengkulu dengan no BP/13/V/2015/DITIPIDUM terkait pidana turut maupaun bersama – sama dalam melakukan penganiayaan yang telah menyebabkan luka berat ataupun meninggal dunia.

Atas rentetan peristiwa yang telah terjadi pada KPK, termasuk juga upaya mengada – ada kasus, telah membuat Novel mempunyai pendapat sendiri.

“Kalau hanya untuk memindanakan seseorang yang  tak disukai serta menyidik dengan dasar kebencian maupun kemarahan, saya merasa bahwa pejabat yang seperti itu memang tidak layak untuk disebut pejabat baik,” kata Novel.

About The Author