Kabar Nasional – Kisah Mantan Paspampres yang Jatuh Bangun Bangkit dari Kursi Roda

 

Pada saat tengah menikmati karier di bidang militer, Puji Samartono mengalami nasib nahas dan harus terkena musibah. Meski pun tidak mudah, tetapi dirinya tidak lekas putus asa. Dia terus menyemangati dirinya supaya pantang menyerah.

Puji merupakan salah satu atlet yang berasal dari kalangan eks militer dan tampil pada ajang Peparnas atau Pekan Paralimpiade Nasional XV yang berlangsung di Jawa Barat. Dirinya tampil untuk membela kontingan dari tuan rumah. Puji turun pada cabor tenis lapangan dengan menggunakan kursi roda.

Namun siapa sangka apabila Puji pernah menjadi supir pribadi dari Wapres Jusuf Kalla di tahun 2004 hingga 2007. Dirinya menjadi anggota Paspampres mulai tahun 1997. Menjadi Paspampres merupakan cita – cita yang diinginkannya sejak kecil, mampu mewujudkan mimipinya tersebut membuatnya merasa begitu bahagia.

Puji lantas berbagi cerita yang sekaligus telah menjadi lembaran bagu di dalam perjalanan kehidupannya. Dirinya tidak pernah menduga apabila akan menjadi seorang atlet difabel. Sebelumnya dirinya telah mengalami sebuah kecelakaan pada tahun 2007, dimana karena kecelakaan tersebut, telah mengharuskan proses amputasi pada bagian kakinya.

“Saat selepas dinas, ya sekitar jam 8 pagi. Waktu itu saya habis mengantarkan Wapres menuju kantornya. Kemudian pada malam harinya saya telah mengalami kecelakaan. Pada saat itu, saya tengah mengendarai sepeda motor pada wilayah Jakarta. Saya telah ditabrak kendaraan umum dari belakang,” cerita Puji sebagaimana yang telah dilansir dari detik.com.

“Saya merasa syok pada waktu itu. Memang sebenarnya saya sehat, namun menjadi difabel. Terlebih lagi, karena kecelakaan tersebut telah berpengaruh terhadap tugas yang saya emban sebagai seorang Paspampres,” imbuhnya.

Butuh waktu yang lama bagi Puji untuk bisa mengembalikan lagi semangat hidupnya setelah menjalani karier yang bagus di bidang militer. Butuh waktu selama tiga tahun untuk bisa membuatnya kembali mendapatkan perasaan hidup seperti saat sebelumnya.

“Dorongan semangat dari keluar memang mampu menjadi factor utama atas keterpurukan itu. Dari tahun 2007 hingga tahun 2010 akhirnya bagur mampu bangkit kembali. Semenjak bersama Pusrehab Kemenham, akhirnya saya bertemu dengan rekan senasib. Dan dari situlah akhirnya saya secara perlahan mampu bangkit,” jelasnya.

Be Sociable, Share!