Kabar Nasional – KPK Terbantu dengan Gugatan Hukum dari Johanes Marliem di Amerika Serikat

Komisi Pemberantasan Korupsi telah berkoordinasi bersama investigasi federal AS atau FBI, terkait atas proses hukum yang telah dilakukan terhadap salah seorang saksi dari kasus e – KTP yang telah meninggal dunia di Amerika Serikat, Johannes Marliem. Sebagaimana diketahui, Johanes dikabarkan telah meninggal dunia karena bunuh diri di apartemennya. Meski pun demikian, proses penyelidikan terhadap dirinya masih terus berlanjut, sebab Maliem diduga masih memiliki aset atas hasil korupsi dari proyek e – KTP.

“Saat ini kami tengah berkoordinasi bersama pihak penegak hukum dari Amerika. Sehingga masih belum bisa untuk menarik kesimpulan,” ungkap Febri Diansyah selaku Juru Bicara KPK ketika ditemui di Gedung KPK Jakarta pada Jum’at 6/10/2017.

Febri juga menjelaskan apabila proses hukum yang telah ditujukan terhadap Marliem merupakan gugatan atas aset yang telah diduga dari hasil kejahatan serta terkait atas indikasi pemberian terhadap pejabat yang ada di Indonesia.

Marliem adalah Direktur PT Biomoft Lone LLC selaku pemasok produk Automated Fingerprint Indentification Systems atau AFIS dengan merk L-1 guna Konsorsium PNRI pada pelaksanan proyek e – KTP. Dirinya telah menjadi subkontraktor pada proyek yang bernnilai Rp 5,9 triliun tersebut.

Pada surat dakwaan dari Andi Narogong, Marliem disebutkan juga ikut diuntungkan pada proyek  e – Ktp senilai US4 14,88 juta serta Rp 25,24 miliar. Dirinya juga ikut masuk pada Tim Fatmawati yang telah dibentuk oleh Andi Narogong guna mengerjakan proyek e – KTP.

Febri juga mengatakan apabila saat ini pihaknya masih belum bisa untuk berbicara secara spesifik terkait atas gugatan yang telah dilakukan oleh otoritas yang ada di Amerika Serikat terhadap Marliem. Setidaknya pada proses hukum itu, akan membantu proses pengusutan korupsi yang telah ditaksir sudah merugikan negara sampai Rp 2,3 triliun.

“Namun memang itu semua terganting pada koordinasi yang bisa maksimal atau kah tidak. Karena kami pun juga berganting atas iktikda baik dari setiap negara,” imbuh Febri.

Ketika ditanya terkait dugaan keterlibatan Setyo Novanto, ternyata beliau engga memberikan komentarnya.

About The Author