Kabar Nasional – Pakar Menyebutkan Tidak Ada Beras Murni yang Dijual di Pasar

Enny Sri Hartati selaku Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance telah mengatakan apabila tidak ada besar murni yang di pasar. Menurut Enny, PT Indo Beras Unggul yang diduga sudah mengoplos beras, bukanlah fenomena yang asing lagi.

“Apakah memang ada beras yang tak dioplos? Pandan Wangi itu tak 100 % merupakan beras wangi. Rasanya tidak enak bila yang dijual itu murni,” ujar Enny ketika ditemui di kawasan Senayan pada Minggu 23/7/2017.

Enny juga menambahkan apabila harga beras yang sudah dijual oleh PT IBU dianggap tak terlalu mengatrol harga besar yang ada di pasaran. Dirinya justru mempertanyakan sikap dari pemerintah yang terkesan terburu – buru dalam menyimpulkan bila PT IBU itu bersalah dengan adanya dugaan mengoplos beras bersubsidi dan beras premium.

“Pertanyaannya saat ini, memang ada beras bersubsidi? Yang saya tahu, subsidi tersebut sudah gak ada semenja tahun 2000 –an. Apabila perusahaan tersebut telah memonopoli pasar, oke mereka salah, namun kan mereka tidak memonopoli pasar, yang menjual beras kan bukan hanya mereka,” imbuh Enny.

Enny juga berpendapat apabila PT IBU telah menjual beras biasa namun dengan harga beras premium, maka tentu konsumen akan mempertimbangkan harganya sebelum kembali untuk membeli beras pada tempat yang sama. Para penjual beras pun tidak hanya dari PT IBU, ada banya produsen yang lainnya yang bisa dipilih oleh konsumen apabila mereka merasa tidak puas dengan besar dari PT IBU.

“Konsumen tentu merasa apabila harga tak sesuai dengan rasa, sudah pasti mereka akan mencari yang lainnya, itulah prinsip ekonomi,” beber Enny.

Sementera itu, Brigadir Jendral Rikwanto selaku Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri telah menyebutkan apabila pelaku pengoplos beras sudah mengambil keuntungan mencapai 200 %. Keuntungan tersebut telah didapatkan setelah mereka menjual beras bersubsidi dan dioplos dengan beras premium dan menjualnya dengan harga yang cukup tinggi.

“Yang dipermasalahkan, bukannya medium maupun premium, namun keuntungan yang begitu besar yan sudah diambil dari beras bersubsidi,” ungkap Rikwanto pada keterangan persnya.

Subsidi yang dimaksudkan ialah subsidi pupuk, benir, alsintan yang dipergunakan oleh petani agar bisa menghasilkan beras dari varietas IR 64 maupun setera, seperti beras Ciherang dan Impari.

About The Author