Kabar Nasional – Penjelasan PLN Tentang PLTA Orya Genyem di Papua yang Rusak

 

PLTA Orya Genyem di Papua telah mengalami kerusakan karena sedimentasi lumpur yang begitu tinggi dan terjadi di hulu sungai. Sedimentasi itu mencapai 3 meter, oleh karena itu hanya ada 1 mesin dari 2 mesin yang bisa beroperasi. Terdapat kerusakan pada salah satu dari kompenennya dan membutuhkan beberapa waktu untuk bisa melakukan perbaikan.

Tidak hanya lumpur, namun juga ada batang kayu yang sudah terbawa hingga ke Hulu Sungai Orya dan telah menghambat aliran air, dimana aliran air tersebut merupakan sumber tenaga dari PLTA Orya.

Karena hal itu, berdampak pada masyarakat yang berada di Kota Jayapura harus mengalami pemadaman aliran listrik. padahal PLTA ini baru saja diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 17 Oktober 2016 yang lalu, atau masih belum ada satu bulan dari sekarang.

Resiko dari sedimentasi seharusnya sudah bisa terdeteksi ketika survey kondisi Sungai Orya sebelum dibangunnya PLTA. Yohanes Sukrislismono seaku GM PLN Wilayah Papua serta Papua Barat telah menjelaskan mengenai survey Sungai Orya yang sudah dilakukan sekitar 8 tahun yang lalu atau mulai 2008. Pada saat itu, kondisi dari hulu sungai memang masih dalam keadaan bagus. Tak ada sedimentasi lumpur yang begitu luar biasa sebagaimana yang telah terjadi seperti saat ini.

Pembangunan dari PLTA memang telah mengalami kemunduran dan baru saja selesai di bulan Desember 2015. Hal itu telah terjadi karena adanya berbagai hambatan, utamanya masalah pembebasan lahan. Namun tidak disangka apabila kondisi sungai telah berubah dengan begitu cepat dalam kurun waktu 8 tahun terakhir ini.

“Dahulu waktu survey, sekitar 8 tahun yang lalu, kondisi sungai memang dalam keadaan bagus namun kita kan memang telah memulai pembangunannya pada delapan tahun yang lalu. Proses pembangunannya memang berjalan dengan panjang sebab ada masalah tanah dan juga segala macamnya. Lalu baru mulai beroperasi sekitaran Desember 2015 yang lalu,” ungkap Yohanes pada Selasa 8/11/2016.

Kini, disetiap musim penghujan, maka PLTA pun telah terganggu dengan lumpur. Sementara itu, pada saat musim kering, ternyata debit air sungai telah berkurang sehingga PLTA pun hanya bisa beroperasi selama 3 hingga 4 jam di setiap harinya.

“Terganggunya seasonal, apabila musim penghujam lumpurnya telah turun, bahkan kemarin hingga ketinggian 3 meter. Apabila musim kemarau sudah tidak, namun terkadang debit airnya yang telah berkurang. Hanya bertahan selama 3 hingga 4 jam,” ujar Yohanes.

Pihaknya pun sedang berupaya untuk menemui dari Kepala Dinas Kehutanan dari Provinsi Papua guna mencari solusinya. Karena banyaknya sedimentasi tersebut, telah terjadi karena adanya penggundulan hutan yang terjadi pada hulu Sungai Orya.

Be Sociable, Share!