Kabar Nasional – Perbedaan Peadofilia, Efebofilia dan Hebefilia pada Kasus Guru Cabul

Kasus yang telah menimpa guru Tri Sutrisno atau A Ju 25 tahun pada SMP BPK Penaburan di Kelapa Gading, telah membuat masyarakat Jakarta Utara heboh. Sebab, guru yang mengajar bidang Bahasa Inggris tersebut telah mengirimkan konten pornografi pada siswinya.

Berdasarkan keterangan dari Reza Indragiri selaku Ketua Bidang Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, saat terjadi kontak seksual diantara orang dewasa dengan anak 0 anaka yang berusia kurang dari 18 tahun, maka penyebutannya perlu untuk dibedakan.

“Disebut Peadofilia apabila korbannya merupakan anak – anak yang berusia pra – pubertas. Efebofilia pada anak – anak pasca pubertas sera Hebefilia pada anak – anak di usia pubertas,” ujar Reza sebagaimana yang telah dikutip dari CNNIndonesia.com pada Rabu 16/8/2017.

Meski pun demikian, dirinya menjelaskan apabila semuanya mempunyai konsekuensi hukum sama, yaitu pidana bagi para pelakunya.

“Tetapi untuk kepentingan proses rehabilitasi, maka implikasinya akan berlainan,” imbuh Reza.

Misalnya untuk hebefilias, Reza menjelaskan apabila korban yang ada pada usia pubertas, biasanya sudah sedikit banyak memiliki minat seksual. Sehingga, perlunya untuk dilakukan pengechekan, apakah si anak melakukan perlibatan secara aktif pada interaksi seksual.

“Apabila iya, maka sebenarnya bukannya si predator saja, tetapi pihak korban pun juga perlu untuk direhabilitasi supaya bisa mengendalikan dorongan seksual yang khas di usia pubertas,” jelasnya.

“Tiga perbedaan tersebut, juga jadi dasar untuk bisa memastikan apakah yang sebenarnya telah dilakukan oleh si pemangsa, pelecehan seksual, perundungan atau rayuan,” tambahnya.

Namun apapun alasannya, pelaku dewasa memang tetap harus diberikan hukuman pidana. Tidak hanya itu saja, Reza juga mengingatkan perlu untuk diwaspadai eskalasi perilaku.

“Pada hari ini sebatas sexting, namun esok bisa saja telah naik menjadi sentuhan dan lanjut lagi seterusnya, sampai akhirnya aksi pemangsaan dilakukan berupa (maaf) persenggamaan,” bebernya.

Apa yang telah dilakukan oleh A Ju dengan mengirimakan konten yang berbau pornografi pada siswinya, telah membuatnya dijerat dengan pasal berlapis. Guru cabul tersebut telah dijerat dengan UU Perlindungan Anak, ITE dan pornografi.

About The Author