Kabar Nasional – Perjuangan Abdul Ghafir Dalam Pendidikan

 

Di pojok sekolah KH Abdul Ghofir N. dengan memakai tongkat kayu dan mengamati ratusan siswanya yang berbaris dengan rapi. Ada sebuah rasa kebanggaan di dalam dirinya yaitu menjadi seorang guru yang sudah merintis sekolah itu.

Pria yang  sepuh ini berasal dari Cirebon Jawa barat kemudian beliau berkeliling untuk melihat dasilitas sekolah. Dan sesekali beliau tersenyum menyapa dengan ramah kepada para petani transmigrasi yang berasal dari berbagai daerah yang melintas disana.

Abdul Ghofir N. merupakan seorang perintis berdirinya sebuah komplkes sekolah dan juga pondokan pesantren yang bernama Salafiyah Syafiiyah yang ada di Desa Banuroja, Kec. Randangan, Kab. Pohuwato yang ada di Provinsi Gorontalo. Daerah itu memang jauh dari pusat kota.

Semua memang berawal sejak tahun 1976 disaat Abdul Ghofir datang menuju kota Gorontaol. Beliau adalah seorang santri dari sebuah pondok pesantren Tebuireng, yang ada di Jombang Jawa Timur. Dikarenakan di Goronntalo sudah dianggap bukanlah derah yang menantang, maka akhirnya dia telah membulatkan tekadnya untuk bisa berbaur dengan para transmigran yang berasal dari beberapa daerah yang baru datang di sebuah desa Manunggal karya. Desa itu ada di perbatasan hutan, dan sebelum dikembangkan dengan Banuroja.

“Kondisi transmigrasi sangatlah memprihatinkan. Banyak sekali yang masih buta huruf dan juga komunikasi antarmasyarakat tak berjalan dengan baik dikarenakan mereka telah menggunaan bahasa Indonesia dengan sangat terbatas,” jelas Abdul Ghofir seperti yang sduah dilansir dalam kompas.com pada hari Jumat, 25/11/2016.

Sejak melihat kondisinya para trnasmigran untuk pertama kalinya, Abdul Ghofir telah memiliki inisiatif untuk bisa sekolah. Bagi beliau, panggilan menjadi seorang guru memang tidaklah dapat ditunda. Dia juga harus mendidik anak-anak sebanyak 20 orang dan juga dia mendidiknya di dalam sebuah bangunan yang sangatlah sederhana.

“jangankan untuk berfikir untuk pendidikan, berfikir untuk makan apa untuk hari ini sudah susah,” jeasnya disaat teringat masa lalu yang begitu sangat sulit itu. disaat musim kemarau yang panjang, para trnasmigran yang berasal dari berbagai daerah sudah tak mempunyai persediaan beras dan juga bahan makanan yang lainnya. itu akan menjadi masalah bagi seluruh warga desa. Merekapun telah didera kelaparan.

Abdul Ghofir akhirnya mengajak banyak kaum pria untuk enuju hutan tidak jauh dari rumah mereka. Merekapun mencari gadung untuk bisa dimakan. Umbi beracun tersebut telah diambil dengan sebanyak-banyaknya, kemudian diiris dan dijemur. Gadung yang sudah kering bsia dijadikan persediaan makanan keluarga dan terus mengumpulkan gadung dari hutan.

Be Sociable, Share!