Kabar Nasional – Polri: Cobalah Melihat “Kau adalah Aku yang Lain” Seutuhnya

 

Divisi Humas Polri telah angkat bicara terkait polemik dari film pendek yang berjudul ‘Kau adalah Aku yang Lain’. Film pendek yang telah menjuarai ajang tahunan dari Police Movie Festival ke – 4 yang sudah digelar Polri tersebut, telah menuai respon yang negatif pada media sosial.

Inspektur Jendral Setyo Wasisto selaku Kepala Divisi Humas Polri telah meminta agar masyarakat menonton film pendek yang berdurasi selama 8 menit tersebut secara utuh, supaya tidak menimbulkan adanya perbedaan tafsir.

“Cobalah dilihat secara utuh. Apabila dilihat sepenggal – sepenggal, tentu bisa berbeda penafsirannya. Oleh karena itu, haruslah dihargai bahwasannya itu merupakan hasil karya seni,” ungkap Setyo ketika ditemui di Mabes Polri Jakarta pada Kamis 29/6/2017.

Meski pun demikian, Setyo masih enggan untuk memberikan tanggapan yang lebih jauh terkait atas polemik dari film pendek tersebut. Menurutnya, pada saat ini pihaknya tengah ingin situasi kondusif dan tenang.

“Sementara masih cooling down dulu. Kami tak ingin hal ini menjadi polemik,” imbuhnya.

Memang sebelumnya, Arsul Sani selaku Anggota Komisi lll DPR dari Fraksi PPP telah mengecam film pendek hasil garapan Anto Galon, sineas dari Semarang. Pada film pendek tersebut, menampilkan adegan kelompok Muslim yang tengah melangsungkan pengajian.

Film yang berdurasi 8 menit tersebut, bercerita terkait toleransi dalam perbedaan keyakinan. Film tersebut menampilkan sebuah adegan dimana ada sebuah kelompok Muslim yang tengah melaksanakan pengajian. Tetapi pada saat yang bersamaan, terdapat seorang istri yang tengah membawa suaminya yang sakit menuju rumah sakit dengan ambulan. Dirinya ingin bisa melintasi jalan yang dipergunakan oleh kelompok Muslim yang tengah menggelar pengajian.

Ketika melihat ada ambulan yang bersiap untuk melewati jalan yang dipergunakan untuk pengajian, ada seorang kakek yang merupakan salah satu anggota pengajian yang tak mengizinkan ambulan untuk melintas. Kakek tersebut ngotot bahwasannya pengajian tidak bisa diganggu.

Terdapat sebuah percakapan, dimana kakek itu menyinggung terkait keyakinan keluarga dari orang yang berada dalam ambulan, sehingga mereka tidak berhak untuk membuka jalan bagi mereka.

“Kemanusiaan tersebut, apabila kita memiliki keyakinan yang sama, mungkin bisa dipertimbangkan. Lah, dianya kan beda,” ujar sang kakek.

Menanggapi film tersebut, Arsul Sani pun menyebutkan bahwasannya film pendek tersebut tak mencerminkan mayoritas sikap Muslim apabila dihadapkan pada masalah seperti yang telah dimunculkan pada adegan film tersebut.

Be Sociable, Share!