Kabar Nasional – Rumah Sakit Jiwa Harus Dimasukkan Dalam RS Umum

Segala bentuk stigma berasal dari masyarakat kini memang sudah menjadi banyak pasien gangguan jiwa agar bisa sembuh. Kebanyakan beberapa keluarga kink merasakan sangat malu untuk bisa kunjungi rumah sakit disebabkan stigma. Ini membuat pasien yang mendapat gangguan jiwa enggan untuk kunjungi psikiater disebabkan cemas dicap gila.

Sunjaya Purwadisastra yang menjadi Bupati Cirebon menyebutkan untuk bisa hilangkan stigma yang ada, dirinya telag mendukung rumah sakit umum bisa dilengkapi kepada klinik kesehatan jiwa, seperti yang sudah dilakukan olrh RS umun daerah Arjawinangun, Cirebun, Jabar.

“Saya memberikan dukungan kepada rumah sakit jiwa memang agar tidak bisa terpisahkan dengan rumah sakit umun. Jika memang di pisahkan aman banyak takut untuk berobat,” terang Sunjaya yang disebutkan kepada wartawan yang telah di temui berada di RSUD Arjawinangun, Kamis (4/11/15).

Berada di RSUD Arjawinangun ada ruangan yang digunakan menjadi ruang perawatan khusus psikiatri untuk rawat jalan dan rawat inap untuk pasien. Dalam memperluas akses suatu pelayanan kesehatan jiwa yang ada di rumah sakit umum ini adalah bentuk dukunga akan tema dari Hari Kesehatan Jiwa Sedunia untuk hari kemarin.

Bentuk gangguan jiwa itu seharusnya bisa dipandang sama seperti penyakit yang lainnya, maka dari itu tempat untuk berobat juga sama.Ganguan jiwa ini nantinya bisa di atasi jika dilakukan pengobatan.

Sunjaya sendiri baru saja katakan kalau akan menjadikan kota Cirebob akan sangat ramah dalam menangani masalah gangguan jiwa. Adapun harapan yang ada yaitu setelah keluar dari perawatan gangguan jiwa, pengindap nantinya tidak merasa terstigma dan bisa dapatkan lagi pekerjaan.

Seperti ungkapan berasal dari Bagus Utomonyang di saat ini menjadi Ketua Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) baru saja menegaskan kalau RSUD akan bisa dijadikan contoh bagi ruma sakit yang lainnya berada di Indonesia dalam memberikan pelayanan dan perawatan kepada para pasien gangguan jiwa untuk lebih bermartabat.

About The Author