Kabar Nasional – Teroris Kerap Kali Menjadikan Penjara Sebagai Sekolah Jihad

 

Lokasi penahanan dari terpidana terorisme memang harus diatur ulang. Hal itu karena ada banyak narapidana kasus terorisme yang justru telah menjadi penjara sebagai sekolah jihad. Mereka justru memanfaatkan diri saat berada di penjara, dengan semakin melebarkan sayapnya. Penjara dijadikan sebagai lokasi perekrutan anggota baru serta pelatihan jihad.

Berdasarkan penelitian dari Ridlwan Habib selaku Peneliti Kajian Strategis Intelijen Universitas Indonesia menjelaskan bahwasannya terpidana dari kasus terorisme, sebaiknya janganlah dicampur dengan terpidana dari kasus yang lain ketika menjalani hukuman dibalik jeruji besi.

“Namun yang telah terjadi ketika napi teroris dipenjara ialah telah berubah menjadi sekolah jihad. Mereka telah memanfaatkan penjara sebagai tempat pelatihan mereka,” ungkap Ridlwan pada diskusi yang berlangsung di kawasan Cikini, Sabtu 3/6/2017.

Menurut Ridlwan, masih belum adanya peraturan yang khusus terkait penanganan narapidana terorisme, telah membuat sipir tak bisa berbuat banyak untuk melakukan pencegahan akan penyebaran radikalisme yang terjadi di dalam penjara.

Dirinya juga menambahkan apabila ada sebagian sipir yang telah mengelur sebab tak bisa untuk melarang para napi saat berkumpul serta berdiskusi.

“Nah, dari situ kan bisa kelihatan. Bahkan, ada pula salah satu diantara mereka yang telah memegang kendali ketika melakukan pembelian banyak senjata dari Filipina,” kata Ridlwan.

Irjen Pol Setyo Wastito selaku Kadiv Humas Polri juga mengungkapkan apabila Indonesia masih memakai system criminal justice untuk penanganan terorisme. Itu berarti, disetiap kasus terorisme yang terjadi, haruslah berakhir di meja hijau atau pengadilan.

Sejumlah negara seperti Malaysia, telah menggunakan model internal act security pada kasus penanganan terorisme. Apabila mempergunakan model internal act security, maka setiap irang yang telah diduga sudah melakukan tindak pidana terorisme, bisa saja dipenjarakan tanpa harus melalui proses pengadilan.

Tetapi, Setyo juga menambahkan apabila penanganan terorirme yang terjadi di lapangan, tak semudah yang kebanyakan dipikirkan. Pihak kepolisian terkadang menindak dengan tegas para pelaku teroris.

Dirinya mencontohkan pada kasus penangkapan terorisme yang terjadi di Solo Jawa Tengah pada beberapa waktu yang lalu. Setelah berhasi ditangkap, ternyata pelak mempunyai senjata api kemudian melakukan penembakan kepada petugas. Petugas kepolisian pun mengambil tindakan tegas kepada pelaku.

“Apabila berhadapan, kami tak tahu, pelaku membawa senjata atau tidak. Kami memiliki Standar Operasional,” jelas Setyo.

Be Sociable, Share!