Kabar Nasional – Umat Islam serta Aparat Merapikan Gereja Pasca Bom Samarinda

 

Aparat yang berasal dari TNI dan Polri beserta Relawan Pembersih Masjid pun nampak ikut terlibat untuk merapikan serta membersihkan geraja. Gereja Oikumene di Samarinda memang telah rusak karena aksi pelemparan bom Molotov di hari Minggu 13/11/2016. Kombes Setyobudi Dwiputro selaku Kapolres Samarinda telah merasakan bahwa situasinya begitu sejuk pada waktu itu.

Kombes Setyobudi dan juga jajarannya telah ikut terlibat pada saat merapikan serta membersihkan tempat ibadah, Gereja Oikumene yang berada di Jalan Dr Cipto Mangunkusumo, Samarinda, Kalimantan Timur.

“Ada banyak yang sudah terlibat, ada 100-1n orang yang telah terlibat. Itu ada Danramil, Muspika, Camar, Lurah, RW RT, Walikota, Kesbangpol, tokoh agama yang berada dari Forum Komunikasi Umat Beragama serta sejumlah orang lainnya,” ujar Setyobudi.

“Semuanya telah ikut terlibat dalam membersihkan serta merapikan kembali gereja tersebut. Suasananya begitu sejuk,” imbuhnya

Relawan Pembersih Masjid At Taqwa Kel. Harapan Baru Samarinda pun ikut dalam akseh kebersamaan antar umat beragama tersebut.

Setyobudi juga menambahkan bahwa setelah merapikan serta membersihkan gereja secara bergotong royong, acara pun berlanjut dengan membersihkan masjid yang tidak bernama serta berada di dekat Gereja Oikumene. Pada masjid itulah, Juhanda yang merupakan pelaku pelempara bom Molotov tinggal.

“Masyarakat sebenarnya telah meninggalkan masjid tanpa memiliki plang nama tersebut sejak tahun 90-an. Hal itu karena adanya perbedaan aham. Karena itulah, tadi sekalian dibersihkan serta dirapikan juga. Kemudian dilanjutkan dengan sholat Jum’at bersama. Selanjutnya dilakukan syukuran serta memberikan nama masjid dengan Al Islah,” jelas Komber Setyobudi.

Dirinya pun berharap bahwa masyarakat sekita nantinya bisa kembali memanfaatkan Masjid tersebut untuk beribadah. Masjid tersebut harus bisa dimanfaatkan supaya tak ditempati oleh orang yang memiliki perbedaan paham.

Semoga saja apa yang telah terjadi di Gereja Oikumene tidak membuat masyarakat terpecah karena perbedaan agama. Semoga masyarakat bisa terus hidup dengan tenang, saling menghormati, saling toleransi antar umat beragama. Karena hal itulah, yang mampu menyatukan Indonesia ini. meski pun berbeda agama, kepercayaan, suku, ras namun kita semua hidup di Satu Negera, Satu Nusa, Satu Bangsa, Indonesia.

Be Sociable, Share!