Kabar Nasional – Upaya Gunungkidul Meningkatkan Kualitas Kesehatan ditengah Minimnya Sarana

 

Dari lima kabupaten yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta, Gunungkidul bisa jadi menjadi daerah yang paling tertinggal pada sector pembangunannya. Hal itu dikarenakan factor geografis dari Gunungkidul sendiri. Padahal hal ini juga telah berdampak atas kualitan kesehatan dari masyarakatnya.

Namun, Nila Moeloek selaku Menteri Kesetahan telah memberikan apresiasinya atas komitmen dari masyarakat Gunungkidul yang telah menghentikan kebiasaan untuk membuang air besar di sembarang tempat. Padahal daerah tersebut begitu kesulitan untuk mendapatkan air.

“Airnya dapat dari mana? Ternyata telah dibuatkan embung untuk bisa menampungnya. Sehingga sekarang sudah ada air, jadi tolong janganlah buang air besar di sembarang tempat. Ada banyak penyakit yang bisa ditimbulkan serta hal itu akan mampu menular kepada yang lainnya,” sebagaimana pesan dari Menkes pada kunjungan kerjanya pada Kawasan Gunung Api Purba, Nglanggeran, Gunungkidul, Yogyakarta pada Rabu 26/10/2016.

NIla juga merasa bangga sebab dari data peta persebaran dari jamban yang telah dipaparkan pada saat awal kunjungannya, terlihat bahwasannya masyarakat Gunungkidul 90 % telah mempunyai WC sendiri meskipun masih berbentuk sederhana.

Hal ini pun telah diakui oleh salah seorang warga yang telah ditemui oleh NIla, Wagimin 50 tahun. Warga Nglanggeran mengaku telah memiliki jamban sendiri sebagai tempat buang aing besar. Dia pun telah mengerti bahwa hal itu penting bagi kesehatan.

“Selain memiliki kamar mandi (toilet), hal itu juga lebih nyaman selain untuk kesehatan,” tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Menkes pun telah memberikan apresiasi atas inovasi lain yang sudah dilakukan oleh Gunungkidul pada bidang kesehatan. Misalnya penanaman sayur dengan menggunakan teknik hidroponik yang bertujuan untuk membiasakan makan sayur dan buah. Begitu pula dengan pengenalan dari Senam Cerdik bagai lansia yang kabarnya telah diperlopori oleh Bupati Gunungkidul, Badingah S.Sos.

Nila pun telah mengingatkan supaya masyarakat tak buru – buru menuju rumah sakit atas segala keluhan kesehatan.

“Ada 80 % masyarakat  yang kita itu mengalami sakit dan yang paling banyak ialah penyakit yang tak menular. Misalnya Jantung,” ujar Nila.

Untuk hal itulah, maka diperlukan adanya penguatan pada Puskesmas guna menjadi layanan kesehatan paling depan. Terlebih lagi, Nila juga menyadari bahwa jarak rumah sakit yang ada di Gunungkidul itu begitu jauh.

Dirinya pun menekankan akan pentingnya sistem rujukan pada peIayanan kesehatan. “Jangan sampai membuat RS Sardjito menjadi Puskesmas raksasa. Hanya batuk pilek ataupun ganti kacamata tidak harus ke Sardjito, hal itu nggak bener,” imbuhnya.

Be Sociable, Share!