Kabar Politik Negara – Menteri Agama Berikan Komentar Tentang Charlie Hebdo

Penyerangan berada di kantor sebuah majalah satir dari Prancis, Charlie Hebdo sudah menjadi perhatian banyak negara di saat ini. Dari penembakan tersebut disebabkan karena adanya penggambaran karikatur dari Nabi Muhammad sehingga sejumlah orang yang merasa sangat tersinggung dan langsung menghabisi redaktur majalah tersebut.

Memberikan respon dari peristiwa tersebut, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin yang menyebutkan, pemerintahan Indonesia memberikan kecaman dari kedua belah pihak. Anggapan dari menteri tersebut pihak dari redaksi harus bisa lebih paham batas batas publikasi persnya terutama menyangkut keyakinan kepada agama.

“Adanya kebebasan ekspresi harus bisa di sertai pengetahuan dan pemahaman cukup tentang keyakinan agama di setiap orang. Berada di dalam Islam ada keyakinan kalau Nabi Muhammad itu tidak bisa di gambarkan dengan fisikly, karena di khawatirkan mengurangi kebaikan dan keutamaan beliau,” terang dari Luqman memberikan penjelasan berada di Bandara Soekarno Hatta, Jumat (16/1/15).

Lebih dari itu, Luqman yang juga sudah menyebutkan kalau dirinya memberikan kecaman kepada pihak penembak. Pasalnya kekerasan atas nama agama dalam bentuk apapun tersebut tidak dibenarkan.

“Pemerintah yang harus lebih tegas lagi, cara-cara kekerasan memang tidak bisa di jadikan alasan untuk bisa tunjukkan rasa kekecewaan, kita yang juga keberatan jika dari para wartawan berada di Paris sudah melakukan penggambaran pada rasul yang mulia tersebut. Harusnya umat Islam yang seperti Rasul di saat di hina mereka bisa mendoakan kepada yang menghina,” terangnya lagi.

Luqman menambahkan, dari umat Islam yang dalam masalah tersebut merasa tersinggung akan adanya karikatur itu mereka harus menempuhnya dengan cara hukum tanpa menggunakan kekerasan.

“Penyelesaikan harus bisa di lakukan secara hukum karena kini muslim adalah umat yang beradab,” terangnya lagi.

Dalam serangan tersebut bisa di ketahui kalau redaksi Charlie Hebdo tewas sebanyak 11 orang, dan para pelakunya saat ini masih menjadi buron. Kejadian ini menjadi suatu koreksi banyak negara.

About The Author