Kabar Teknologi – Cacat Sistem pada Aplikasi Porno VR Memunculkan 20.000 Nama Penggunanya

Sebuah cacat yang menampilkan data pribadi dari ribuan pengguna aplikasi porno virtual reality yang terpapar telah diperbaiki. Perusahaan digital Cybersecurity Digital Interruption menemukan celah dalam aplikasi SinVR yang memberikan akses terhadap sekitar 20.000 nama pengguna dan alamat email.

SinVR mengucapkan terima kasih telah menyoroti masalah ini dan berjanji untuk meningkatkan keamanan siste mereka.

“Secara keseluruhan, ini adalah pengalaman yang akan menjadi pembelajaran yang luar biasa,” kata perusahaan yang berbasis di AS tersebut kepada situs teknologi Alphr.”Ke depannya, kami yakin dengan kemampuan kami untuk menghentikan serangan seperti yang telah terjadi dan akan terus menggunakan layanan keamanan profesional untuk terus mengaudit sistem kami.”

Melalui Twitternya, Digital Interruption mengatakan bahwa SinVR telah melakukan perbaikan atas terpaparnya data pribadi dari pengguna. Digital Interuption juga memberikan bantuan jika SinVR membutuhkan bantuan atas celah pada sistem keamanan mereka.

SinVR adalah game virtual reality porno yang memungkinkan pengguna menjelajahi berbagai lingkungan bertemakan orang dewasa dan berinteraksi dengan karakter maya. Perusahaan tersebut bekerja dengan headset VR yang paling utama termasuk HTC Vive dan Oculus Rift.

Dalam sebuah posting blog, Digital Interruption mengatakan telah memutuskan untuk go public setelah perusahaan induk SinVR, inVR, tidak menanggapi email tentang kekurangan aplikasi tersebut.

Perusahaan cybersecurity tersebut, yang telah meninjau keamanan terhadap sejumlah situs bertema dewasa, mengatakan bahwa mereka mengakses data pribadi semua orang dengan akun SinVR dan juga berhasil mengetahui siapa saja yang membayar konten dewasa tersebut menggunakan PayPal.

Rincian password dan kartu kredit tidak terpapar dalam kasus kebocoran data tersebut, katanya.

“Karena sifat aplikasinya, berpotensi cukup memalukan untuk mendapati aplikasi mereka memiliki cacat sistem yang menimbulkan kebocoran data pengguna, kata Digital Interruption menulis di posting blognya. “Secara luas situasi tersebut dapat menimbulkan kemungkinan beberapa pengguna dapat mengalami pemerasan atas terpaparnya informasi mereka.”

Ini bukan pertama kalinya data pribadi mereka yang mengunjungi situs porno telah terpapar. Pada tahun 2016, nama hampir 800.000 pengguna terdaftar dari situs porno Brazzers terpapar dalam kasus pelanggaran data.

Dan tahun lalu, periset Jerman mengaku telah mengakses kebiasaan browsing porno anggota masyarakat dengan teknik reverse-engineering data online yang digunakan untuk iklan bertarget.

About The Author

Reply