Krisis Ekonomi Eropa Tak Pengaruhi Ekspor Tembakau Indonesia

Krisis ekonomi yang terjadi di Eropa, demikian pula hutang yang ada, ternyata tak mempengaruhi konsumsi tembakau di benua tersebut. Bahkan pasar tembakau di Eropa tidak hanya stabil, melainkan meningkat, terutama di Jerman. Dengan kondisi inilah, Tembakau Indonesia tetap laris manis di Eropa.

Atase Perdagangan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Berlin, Nusa Eka mengatakan hal tersebut dalam kunjungan kerja ke perusahaan tembakau Hellmering Ko hne & Co yang berpusat di Bremen dalam siaran pers Senin (24/12). Dalam kunjungan tersebut hadir pula Duta Besar RI untuk Jerman Eddy Pratomo.

Senada dengan Nusa, Direktur Utama Hellmering Ko hne & Co, Wolfgang Ko hne mengamini hal tersebut. Menurut Wolfgang, tembakau yang berasal dari Indonesia, terutama dari Deli, Sumatera Utara memiliki kualitas terbaik di dunia. “Meskipun banyak daerah lain, baik di Indonesia maupun Internasional, yang menghasilkan tembakau lebih banyak dari pada di Deli, kualitas tembakau asal daerah ini adalah yang teratas,” katanya.

Wolfgang juga menjelaskan bahwa benih jenis tanah yang dipadukan dengan iklim di daerah Deli menjadi sangat cocok untuk tanaman jenis tembakau. Tembakau Deli sudah dikenal lebih dari 120 tahun oleh kalangan bangsa di Jerman. Kini, tembakau Deli bahkan harganya mencapai 150 Euro per kilogramnya.

Bukti-bukti sejarah juga menjelaskan bagaiamana bangsa Jerman berperan dalam mempoulerkan tembakau asal Indonesia ini ke selurh dunia. Disebutkan, tembakau Deli mulai populer di awal abad 19.

Sementara itu, Dubes RI Eddy Pratomo menekankan bahwa persahabatan Indonesia Jerman serta perdagangan tembakau ini telah terjalin lebih dari 50 tahun adanya. Hal ini menurutnya perlu terus dibina hingga terus menerus.

Hellmering Ko hne & Co adalah sebuah perusahaan yang sejak 1959 telah melakukan bisnis di Indonesia. Perusahaan ini dimiliki turun temurun dan telah memasarkan tembakau asal Deli dan daerah lain ke sejumlah negara-negara di kawasan Eropa.

 

 

bisnis dan ekonomi

About The Author

Reply