Menyoal Rambut Pirang Pasha Ungu

Menyoal Rambut Pirang Pasha Ungu

Dari judulnya, rekan pembaca yang asyik-asyik tahu bahwa ini soal polemik antara Mendagri Tito Karnavian dan Wakil Walikota Palu yang juga artis, Sigit Purnomo Syamsuddin Said alias Pasha “Ungu”.

Singkat cerita begini, Pasha ditegur Tito karena rambut pirangnya. Menurut Tito, ada etika yang dilanggar oleh Pasha dengan berambut pirang.

Larangan tentang mengecat rambut bagi PNS atau ASN sebenarnya tidak diatur, apalagi Pasha juga bukanlah seorang PNS.

Akan tetapi sebagai seorang pejabat publik, Pasha memang harus memberikan contoh. Begitu kira-kira yang dimaksudkan oleh Mendagri Tito.

Pasha sempat membalas teguran Tito. Bagi Pasha, meski berambut pirang atau nyentrik, Pasha mengatakan bahwa dirinya juga telah menjalankan tugasnya sebagai Wakil Wali Kota Palu.

Bahkan Pasha menegaskan bahwa hal itu menjadi salah, jika dirinya berambut kuning tapi tidak bekerja, tidak bertugas, atau meninggalkan kewajiban-kewajiban sebagai kepala daerah.

Pasha juga mengatakan rambut pirangnya juga bukan sekadar gaya-gayaan tapi untuk keperluan syuting salah satu video klip musik.

Soal nyentrik, Mendagri Tito ada benarnya juga.

Menurut KBBI, nyentrik itu berpengertian berperilaku, bergaya eksentrik, aneh, tidak wajar (tentang anak muda misalnya anak laki-laki memakai subang, atau memakai celana jin yang di bagian tumit dirobek, dengan baju digulung ke atas sampai pendek sekali, dan sebagainya).

Bergaya eksentrik, aneh dan tidak wajar. Dari contohnya ke arah gaya, mau gaya berpakaian atau gaya rambut dan sebagainya. Pasha jelas nyentrik.

Mendagri Tito sepertinya sedang melakukan sebuah tindakan antisipatif. Bayangkan jika kenyentrikan Pasha ini ditiru dan dijadikan contoh oleh para ASN.

Semuanya akan berambut pirang, mau kekuning-kuningan atau blonde abis. Baik pria maupun wanita. Ini kan akan glowing, ramai jadinya.

Bisa tampilannya kayak grup musik cherrybelle. Syukur-syukur jika pas di wajah, maksud saya wajah mendukung, tapi kalau tidak kan akan mengerikan bin menakutkan. Warga yang akan dilayani juga akan takut datang, karena seperti sedang menonton film horror.

Lalu biaya tambahan juga jika hal itu dijadikan sebagai trendsetter di kalangan ASN nantinya. Biaya salon akan bertambah untuk mewarnai rambut.

Katanya pewarna pirang itu paling mahal jika disalonin, nah dengan gaji pas-pasan dan harus nyentrik, maka bukan keren tapi jadinya kere.

Soal rambut pirang ini juga ada ceritanya. Sebenarnya rambut pirang itu naturalnya tidak disengaja atau dibuat-buat di barat sana.

Dari Wikipedia dijelaskan bahwa “pirang” merupakan warna rambut yang timbul akibat kurangnya pigmen eumelanin. Biasanya warna rambut ini diwariskan secara familial. Jadi karena kurangnya gen makanya pirang.

Nah dalam perkembangannya, karena dianggap warna pirang ini cerah dan menarik maka rambut yang sudah kaya gen karena berwarna hitam tersebut lalu dibuat jadi kurang gen alias berwarna pirang.

Jadi sudahlah, rambut sudah hitam habis jangan diubah warnanya lagi. Pilihannya cuma dua, hitam atau putih alias beruban tanda sudah menua.

Di sisi lain, pembelaan Pasha juga ada benarnya, minimal dari logikanya menempatkan kinerja di atas penampilan.

Penampilan nomor dua, karena yang paling penting kinerjanya.

Nampaknya, Pasha hendak membela diri bahwa nyentrik boleh, tapi yang penting kerja.

Benar juga sih. Kadang-kadang, penilaian dari cover-nya saja jadi kurang adil jika tidak diperhatikan hal yang palng esensi yakni soal kinerja.

Soal kinerja inilah yang dapat membedakan antara pejabat publik yang berkualitas dan yang tidak.

Ketika mengatakan ini, Pasha mungkin dengan sendirinya mengevaluasi dirinya juga. Sejak terpilih, sudah beberapa kali Pasha mendapatkan sorotan yang berkaitan dengan hal ini.

Sorotan kebanyakan adalah soal aktivitas bermusik Pasha yang membuat banyak pihak menganggap Pasha tidak memberikan perhatian yang cukup pada warga.

Persoalan ini adalah kesekian, sehingga Pasha perlu lebih membuktikan bahwa kinerjanya juga nampak nyentrik, nampak luar biasa dibandingkan penampilannya.

Tak ingin memperpanjang kontroversi, Pasha lalu memangkas rambutnya. Pasha sekarang sudah gundul, plontos habis.

Gundul ini sepertinya juga terlihat nyentrik juga. Mendagri Tito nampaknya akan bingung dengan penampilan terbaru dari Pasha ini.

Lalu jika semua ASN ramai-ramai gundul, lalu bagaimana nantinya?

Ah, sebenarnya masih banyak hal yang lebih pantas menjadi bahan evaluasi Kemendagri dibandingkan rambut pirang Pasha. Sebaliknya, pejabat juga jangan sibuk nyentrik karena warga lebih butuh kinerja yang nyata dan bermanfaat.

Berita Terbaru

TuLisberita2020!!222!0_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *