Pulih Dari Pandemi, Berubah Atau Punah

Pulih Dari Pandemi, Berubah Atau Punah

 

Tak ada yang menyangka bahwa hidup bisa berubah secepat wabah yang memporakporandakan segala sesuatunya. Dalam setengah tahun semua pemberitaan bertahan di satu isu yang sama – hingga hampir setiap malam siaran radio menampung tanggapan pendengar yang meracik topik itu dan itu lagi. Bagi saya, interaksi pendengar pada radio bisa menjadi gambaran mengenai situasi riil yang telah terjadi di masyarakat. Hari demi hari bukannya makin melegakan, dari sekian banyak komen dan juga tanggapan yang saya ikuti akhir-akhir ini justru kian bikin ngeri.

Ketika ekonomi ingin dipulihkan, dan masyarakat meronta ingin berada pada situasi hidup hingga terjadi mispersepsi istilah dari ‘new normal’, penularan Covid 19 kian menggila. Yang mereka kira new normal adalah ‘hidup baru’ layaknya pasca prahara perceraian kemudian menikah lagi. Sementara di lembaran baru, semua kebiasaan telah berulang kembali seperti kemalasan, ketidakjujuran, hingga menggantungkan harapan kepada kekasih baru yang dikira dapat menjadi sumber mata air keberuntungan dan kebahagiaan. Protokol yang dijalankan hanya sebatas aturan saja, yang menyisakan ‘celah-celah jalan tikus’ untuk tidak dipatuhi. Mulai dari cara memakai masker turun dari hidung hingga dagu, kemudian dinaikkan lagi saat razia tiba.

Mengandaikan kasus tertular Covid-19 namun ‘tak sampai masuk Rumah sakit’, adalah cara gegabah menilai virulensi dari suatu penyakit menular yang telah jadi pandemi. Tak banyak yang menyadari bahwa menjadi kritis dan bergejala, butuh waktu tertentu minimal sampai jumlah virusnya cukup banyak. Seperti nakes yang tidak mampu bertahan hidup, sebab setiap hari terperangkap pada ‘kerumunan virus’ di ruangan rumah sakit. Yang sudah bergejala pun, jarang ada yang bersedia ke rumah sakit. Bahkan mereka takut dites dan ternyata hasilnya positif tertular. Sementara itu, di luar sana ramai orang yang berjualan jurus-jurus mujarab untuk penangkal virus. Tanpa memahami perjalanan alamiah dari suatu penyakit menular, mulai cara virusnya memperbanyak diri sampai berpindah tempat dan menginfeksi korbannya, sangat mustahil wabah dapat dikendalikan.

Berubah, atau punah. Berubah berbeda dengan sekadar ‘ganti jaket’. Bahwa tidak menyelenggarakan pesta pernikahan yang jor-joran di gedung, bukan berarti bisa menyurutkan nilai pernikahan itu sendiri. Kebun belakang rumah pun selain bersifat ruang yang terbuka, juga cukup untuk beberapa orang saja yang memang dianggap penting untuk selebrasi yang suci.

Sama halnya dengan belanja negara ataupun keluarga. Ada perubahan pengeluaran demi masa depan, apa salahnya masak sendiri? Dan juga apa salahnya menggunakan produk dari dalam negri? Pemulihan ekonomi tak lagi ditujukan untuk dapat ‘seperti dulu’ untuk program padat karya mengasih makan sekian ratus juta rakyat. Namun sudah saatnya di masa depan, kita lebih banyak untuk membuat perangkat elektronik tanpa sentuhan, dan juga meningkatkan kapasitas elektronik maupun robotik untuk berbagai mekanisme kerja, serta membedakan pekerjaan yang mana manusia tak tergantikan keberadaannya. Menjadi sangat mengerikan, jika selama pandemi terjadi pertambahan jumlah penduduk, makin tingginya risiko stunting akibat pola hidup yang kian amburadul, naiknya prosentase untuk usia produktif sementara kualitas intelektualnya sangat jauh dari kata konstruktif. Pulih dari pandemi itu bukanlah hal yang otomatis. Dan bukan karena Tuhan kasihan kemudian penyakitnya dijauhkan. Namun pulih itu ibarat perjuangan untuk keluar dari maut dengan cara yang sahih, dapat dipertanggungjawabkan di hari depan. Bukan dengan menyelesaikan masalah dan menciptakan masalah baru. Sebab Tuhan telah menciptakan manusia dengan otak dan juga akhlak.

Berita Terbaru

TuLisberita2020!!222!0_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *