Limbah Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Cemari Sungai Cileuleuy, 6 Kampung Terdampak

Limbah Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Cemari Sungai Cileuleuy, 6 Kampung Terdampak – Di tengah pelosok Kabupaten Bandung Barat, tepatnya di Kampung Sukaluyu Desa Puteran, Cikalong Wetan, aktivitas proyek pembangunan terowongan (tunnel) 6-3, salah satu infrastruktur penunjang Kereta Cepat Jakarta Bandung, terlihat sangat sibuk. Namun demikian, proyek yang belum memberikan manfaat tersebut justru membawa kesengsaraan untuk masyarakat yang tinggal di 6 kampung di Desa Puteran.

Penyebabnya, aliran air Sungai Cileuleuy yang melewati Kampung Sukaluyu, Kampung Sukamulya, Kampung Karyabakti, Kampung Sukamanah, Kampung Sukaresmi dan Kampung Patrol, tercemar air limbah pembuangan proyek pengeboran terowongan infrastruktur penunjang Kereta Cepat Jakarta Bandung.

Elar Sukmana, Sekretaris Desa Puteran menjelaskan, kampung yang paling parah terimbas pembangunan adalah Kampung Sukamanah.

“Kurang lebih sawah yang terkena dampak kurang lebih 75 hektare. Yang dirugikan adalah kelompok tani dan warga yang menggunakan air tersebut untuk kolam ikan,” kata Elar saat ditemui di Proyek pembangunan terowongan 6-3, Rabu (3/9/2020).

Dari pantauan Kompas.com di proyek pembangunan terowongan 6-3, air yang dikeluarkan dari dalam terowongan cukup deras berwarna abu-abu pekat. Air tersebut langsung masuk ke dalam sebuah bak pembuangan.

60 KK terdampak pencemaran limbah kereta cepat

Dari bak pembuangan, air kemudian masuk lagi ke dalam 4 unit kolam. Namun derasnya air dan banyaknya sedimentasi membuat kolam-kolam tersebut cepat penuh dan tidak mampu lagi menahan air sehingga air yang tetap saja kotor meski sudah disaring menggunakan ijuk langsung bercampur ke dalam aliran sungai Cileuleuy yang biasa dimanfaatkan warga.

“Jumlah KK yang terdampak mencapai 60 KK. Itu berdasarkan tanda tangan warga yang kena dampak,” tuturnya.

Meski demikian, Elar tidak memungkiri jika ratusan KK lainnya di 6 kampung tersebut ikut terdampak. Pasalnya, 3 mata air disekitar lokasi proyek yang biasa dipakai untuk kebutuhan air bersih warga kini semakin berkurang.

“Mata air sudah kecil debitnya sekarang. Sementara air alternatif dari sungai Cileuleuy tercemar. Warga jadi kesulitan air bersih sekarang,” tuturnya.

TNI minta China Railway bertanggungjawab

Komandan Kodim 0609/Cimahi, Letkol Kav Tody S.T juga berkesempatan mengunjungi lokasi proyek pembangunan terowongan 6-3 Kereta Cepat Jakarta Bandung. Sebab, Sungai Cileuleuy merupakan salah satu anak sungai Citarum. Limbah yang dikeluarkan memiliki potensi mengganggu program Citarum Harum yang dikawal ketat oleh TNI.

Usai meninjau proyek, Tody mengatakan pihak perusahaan China Railway Group Limited (CREC) yang membangun terowongan tersebut harus melakukan tindakan jangka pendek dan jangka panjang.

“Perusahaan harus memperbaiki instalasi pengolahan air limbah karena didalam terowongan ini ada proses yang menggunakan bahan kimia (pengering semen). Perusahaan wajib menyediakan instalasi pengolahan air limbahnya sehingga ke depan bahan kimia berbahaya yang kita tidak tahu kandunganya apa bisa diproses sesuai standar pengolahan air limbah,” tuturnya.

Sementara itu, mewakili pihak CREC, Firman Firdaus Safety Officer Proyek Tunnel 6-3 mengatakan, sebagai langkah jangka pendek pihaknya akan memenuhi permintaan warga.

“Sesuai pengajuan, warga minta pemasangan pipa mungkin dari perusahan masih dipertimbangkan dari pihak China tindakan awal dulu agar aliran sungai limbah tidak menuju sungai ke warga, tapi langsung ke sungai utama itu dulu yang akan ditindaklanjuti,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *